best bootstrap web page maker software download

Mahasiswa UMS Ciptakan “Dekiler-Box”, Alat Sterilisasi Kedokteran Gigi Praktis, Multifungsi, Ramah Lingkungan dan Tanpa Listrik Untuk Dokter Gigi Daerah Terpencil


Tim PKM-KC. Dari kiri ke kanan: Tifani Nazarudin, Ardhita Rosiana Putri, Wimmy Safaati Utsani, Bachuroh Fasda dan Muhammad Abu Chaira, lokasi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta. (Foto: Dokumentasi pribadi)

.

UMS NEWS – Tenaga pelayanan kesehatan gigi dan mulut mempunyai kewajiban untuk selalu memenuhi salah satu kriteria standar pelayanan kedokteran gigi di Indonesia, yaitu dengan melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi. Dokter gigi harus dapat memastikan seluruh pelayanan yang berada di dalam lingkungannya mempunyai sarana prasarana yang baik dalam pencegahan dan pengendalian infeksi. Hal tersebut termasuk kebersihan tangan, pembersihan, disinfeksi dan sterilisasi peralatan serta bahan yang digunakan. Dokter gigi sebagai tenaga kesehatan berperan dalam pencegahan, penatalaksanaan dan perawatan gigi mulut. Dalam pelaksanaannya, dokter gigi tidak hanya praktek di klinik kesehatan perkotaan atau klinik pribadi namun dokter gigi bisa saja ditugaskan untuk menjadi dokter gigi internship di daerah terpencil. Mengingat isu akhir-akhir ini tentang peraturan pendidikan kedokteran gigi di Indonesia yang mewajibkan calon dokter gigi untuk menjadi dokter gigi internship. Keterbatasan fasilitas di daerah terpencil menjadi kendala utama dalam penanganan pasien. Fasilitas yang kurang memadai mengakibatkan pemeriksaan dan tindakan penanganan kepada pasien menjadi kurang maksimal. Padahal prinsip penting dari pelayanan kesehatan berkualitas adalah perlindungan bagi pasien dari penularan infeksi. 

Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi yang efektif maka lima orang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta berhasil membuat alat inovasi alat sterilisasi praktis, multifungsi, ramah lingkungan dan tanpa listrik. Alat tersebut diberi nama Dekiler-Box (Dental Kit Sterilisator Box) yang penggunaannya pun sangat mudah dan tidak memerlukan perawatan yang intensif

Kelima mahasiswa dari lintas fakultas di UMS itu adalah Wimmy Safaati Utsani (Pendidikan Dokter Gigi) sebagai ketua tim, Tifani Nazarudin (Teknik Mesin), Ardhita Rosiana Putri (Pendidikan Dokter Gigi), Muhammad Abu Chaira (Pendidikan Dokter Gigi) dan Bachuroh Fasda (Pendidikan Dokter Gigi).

Dibawah bimbingan drg. Dendy Murdiyanto, MDSc. yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Gigi UMS, inovasi dan kreativitas itu dituangkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC), dan berhasil lolos seleksi pendanaan Kemenristekdikti tahun 2017.

Dijelaskan oleh Wimmy Safaati Utsani, ketua Tim PKM-KC, latar belakang digagasnya Dekiler-Box ini, karena pernah mendapat berita tentang seorang dokter gigi yang pernah bertugas di daerah terpencil, dimana ketika dokter tersebut melakukan pemeriksaan dan tindakan penanganan kepada pasien, fasilitas sterilisasi yang terdapat di daerah tersebut kurang memadai. Sehingga pemeriksaan dan tindakan penanganan kepada pasien menjadi kurang maksimal. Padahal upaya pencegahan dan perlindungan infeksi pada pasien adalah prioritas utama yang harus dipenuhi oleh dokter gigi.

Produk ini dapat dikatakan ramah lingkungan karena pada kotak bagian kedua yaitu pembersihan instrumen, produk ini menyediakan deterjen dengan bahan kombinasi bio anti bacterial agen laktonat alkaloid yaitu deterjen yang memiliki beberapa kelebihan antara lain tidak ada efek racun kuat dan tidak korosif terhadap logam. Pada umumnya di dunia kedokteran gigi, deterjen yang digunakan untuk pencucian instrumen sangatlah tidak ramah lingkungan dan mencemari lingkungan karena memiliki bau yang menyengat dan menyisakan sifat korosif pada logam. Maka dari itu, produk ini membuat sebuah alat sterilisasi dengan konsep baru yang belum pernah ada sebelumnya yaitu ramah lingkungan agar saat dokter gigi menggunakan alat ini merasa nyaman, tidak mencemari lingkungan dan hasil dari kesterilan alat juga maksimal. Produk ini juga tidak memakai listrik saat menggunakannya karena pada kotak bagian keempat, terdapat panci tekan dimana panci ini sebagai alat alternatif pengganti autoklaf. Prinsip kerja dan hasil kesterilannya sama dengan autoklaf, yang membedakan antara panci tekan dan autoklaf adalah cara menggunakannya, autoklaf memakai listrik sedangkan dekiler-box memakai alat pemanas.

.

Cara pengoperasian alat ini, pertama operator memakai masker dan penutup kepala. Lalu operator melakukan Hand Hygiene dengan melepas semua perhiasan atau jam tangan di tangan dan mencuci tangan dengan sabun antiseptik sesuai teknik mencuci tangan yang benar. Kedua Personal Protective Equipment, operator memakai surgery gown dan handscoen dengan teknik pemakaian yang benar. Setelah sudah melakukan hand hygiene dan personal protetive equipment, operator melakukan tahap pertama sterilisasi instrumen yaitu pre-cleaning dengan cara merendam instrumen yang sudah dipakai untuk pemeriksaan dengan larutan detergen yang sudah disediakan. Lalu tahap kedua pembersihan instrumen, seluruh instrumen yang digunakan dalam proses perawatan harus dibersihkan/digosok menggunakan sabun detergen yang sudah tersedia. Setelah dibersihkan, seluruh instrumen dan alat harus dibilas menggunakan air mengalir atau air yang disimpan dalam wadah. Tahap ketiga disinfeksi tingkat tinggi, instrumen direndam dengan larutan klorin selama 20 menit. Tahap keempat sterilisasi basah, sterilisasi ini menggunakan panci tekan. Hanya dengan alat pemanas dan gas proses seterilisasi basah ini sudah selesai kira-kira selama 12 menit dan hasilnya juga maksimal. Tahap terakhir adalah packing instrumen, semua instrumen yang sudah disterilisasi dimasukkan dalam kemasan steril dan disimpan ke dalam tempat tertutup di bagian samping tas dekiler-box. Kemasan steril yang dipakai digunakan untuk sekali pakai untuk memastikan kualitas sterilitas alat.

Alat sterilisasi kedokteran gigi sangatlah mahal, karena untuk membeli satu bagian sterilisasi saja dibutuhkan biaya yang tidak sedikit yaitu berkisar antara Rp. 4.000.000,- sampai Rp. 25.000.000,- dan harga tersebut belum untuk semua bagian sterilisasi. Dan kelima mahasiswa ini berhasil menciptakan inovasi alat sterilisasi terbaru yang belum pernah ada sebelumnya di dunia kedokteran gigi, selain memiliki banyak kelebihan yaitu ramah lingkungan, praktis dan tanpa listrik, alat ini sangatlah ekonomis karena jika dibandingkan dengan alat sterilisasi lainnya, alat ini hanya dibutuhkan biaya Rp. 1.500.000,- untuk membelinya.